wrapper

Beaking News

Has no content to show!

.

.

Bagaimana jika para pemimpin redaksi media massa dan wartawan senior main ketoprak? Ada materi editorial di antara lupa dialog dan salah blocking. Lumayan lucu.

Hajah Lies Luluk Sumiarso mendapat "cobaan" berat. Pertunjukan ke-45 Ketoprak Puspo Budoyo yang dipimpinnya melibatkan para redaktur senior dan pemimpin redaksi (pemred) berbagai media massa sebagai pemain. Dua minggu masa latihan, tiga kali pertemuan, tidak sekali pun para wartawan itu terkumpul lengkap.

Alasannya apa lagi kalau bukan deadline. Sepertiga datang pada saat sepertiga lainnya meninggalkan tempat latihan. Begitu seterusnya. "Apa, ya, bisa ketoprak saya mentas," tutur Ibu Lies.

Bagaikan akhir bahagia sebuah lakon, menjelang pementasan, Lies menemukan para elite dapur berita itu seperti anak-anak nakal yang bersedia meredam egonya. Mereka jadi anak manis yang berkumpul bersama untuk memenuhi perannya di atas panggung.

Cerita itu sebagian dikemukakan Lies dalam pidato pengantar pementasan Ketoprak Puspo Budoyo dengan lakon Wangsa Buwana Keling (Grendulu) di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam lalu. Beberapa tahun belakangan, dengan ramuan "ketoprak guyon campur tokoh", Puspo Budoyo kerap menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai kalangan di atas panggungnya.

Kali ini, lewat lakon Wangsa Buwana, giliran para pejabat teras media massa nasional naik panggung. Mereka yang terlibat antara lain S. Faruq (Pemred Koran Seputar Indonesia), Eko B. Supriyanto (Pemred Infobank), Heddy Lugito (Wapemred Gatra), Kristianto Hartadi (Pemred Sinar Harapan), Ardian T. Gesuri (Pemred Kontan), M. Slamet Susanto (Pemred Koran Jakarta), dan Frans Padak Demon (Direktur VoA).

Juga sejumlah wartawan senior, seperti Parni Hadi, Ninok Leksono, dan Ida Parwati. Selain dari kalangan pers, lakon itu menghadirkan pula tokoh perbankan nasional, seperti Aviliani (Komisaris Bank BRI), Bambang Soepeno (Direktur Bank BRI), Zulnasri (Bank BNI), dan beberapa pengusaha.

Wangsa Buwana bercerita tentang intrik politik di era Kerajaan Majapahit. Yakni ketika kerajaan besar Wengker berusaha menguasai wilayah Wengker Kidul. Padahal, di wilayah itu telah berdiri Kerajaan Grendulupura yang kelak --sebagaimana dikemukakan rajanya, Prabu Buwana Keling-- disebut Pacitan. Di antara kisah ekspansif itu, terentang pula masalah suksesi dan balas dendam khas cerita ketoprak.

Konteks cerita seperti itu menjadi kendaraan nyaman bagi para wartawan untuk melempangkan agenda setting medianya. Improvisasi menjadi senjata mereka untuk nyentil sana-sini, kritik ini-itu. Mulai urusan suksesi 2014, daerah khusus macet dan banjir, impor beras, saham Krakatau Steel, sampai urusan naturalisasi pemain sepak bola.


Dalam momen pisowanan di Keraton Wengker, misalnya, di antara kebingungan Raja Bre Wengker (diperankan secara cukup tenang oleh S. Faruq) dalam memilih satu di antara dua pangerannya sebagai penerus tahta kerajaan, tiba-tiba sang permaisuri, Ratu Sulastri (Aviliani), berinisiatif menawarkan diri untuk maju dalam suksesi 2014.

Pertunjukan pada malam itu bisa disebut ketoprak editorial. Selain karena adanya ulasan pendek berita-berita aktual sebagai materi improvisasi, hal itu bisa ditandai dengan melemahnya kontrol sutradara (Aries Mukadi) terhadap disiplin dialog dan pengadeganan ketoprak tradisional. Tapi dijamin tidak ada yang keberatan atas praktek itu.

Aksi para wartawan dalam mengemukakan inisiatif --untuk tidak menyebutnya keras kepala dan susah diatur-- memberi warna tersendiri dalam mengail kelucuan di atas panggung. Namanya juga ketoprak guyonan campur tokoh, kekuatannya pun ada pada penyimpangan dramaturgis, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak.

Kualitas akting rata-rata para wartawan itu bisa dibilang satu tingkat lebih rendah dari kualitas pemain amatir. Indikatornya paling sering ditemukan pada momen: lupa dialog, penyimpangan garis blocking, torso, dan gestur yang canggung. Tapi kenyataan itu justru membuat pertunjukan menjadi cair; aset komedi insidental yang kerap ditanggapi dengan tawa oleh penonton.

Memang sesi paling "guyon" dalam lakon itu ada pada adegan yang melibatkan para pelawak ketoprak beneran, seperti Kirun, Marwoto, Ciblek, Eko D.J., dan --cukup mengejutkan-- Bambang Soepeno. Namun pemain dari kalangan pers cukup berhasil menyodorkan komedinya dengan tidak memanipulasi keterbatasan mereka di atas panggung.

sumber: gatragatra online

Last modified on Friday, 06 December 2019

Media

Login to post comments

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family