wrapper

Beaking News

Has no content to show!

.

.

Paguyuban Puspo Budoyo yang didirikan pada 6 Agustus 2003 lalu oleh H. Luluk Sumiarso, dengan tujuan pendirian sanggar budaya tersebut tidak lain merupakan wujud rasa cinta Sumiarso sendiri terhadap budaya lokal sekaligus sebagai refleksi keprihatinan terhadap pupusnya kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan mereka sendiri di tengah derasnya arus modernisasi.

Usahanya dalam melestarikan warisan budaya bangsa memang tidak sembarang orang bisa menirunya. Luluk Sumiarso, Pria kelahiran Ponorogo 1951, lulusan ITB, Teknik Elektro 1975 ini membeli tanah di Kampung Sawah Ciputat Banten kemudian dijadikan tempat untuk secara langsung merawat budaya warisan bangsa. Di tempat ini sering diadakan latihan berbagai kesenian. Tempat yang secara langsung bagi masyarakat bisa melakukan apresiasi dalam hal budaya nusantara.

Dengan mendirikan Nusantara Institut, Luluk merasa tidak perlu risau dengan hingar-bingar rebutan hak paten dengan negara tetangga atas satu tradisi. Lambat laun jika kita merawat tradisi, tambah Luluk, negara lain tidak akan segampang untuk mengklaim. “Kita harus bercermin pada seni barongsai yang sudah mendunia. Orang akan banyak tertarik pada barongsai sampai ada yang ingin belajar ke Cina. Coba bayangkan jika banyak orang luar yang ingin belajar wayang ke negeri kita?” tanya alumnus ITB ini.

 

Mantan Dirjen Energi Terbarukan Kementrian ESDM ini, menguatkan niat untuk merawat tradisi nusantara dengan mendirikan Nusantara Institut. Luluk berkaca pada negara lain yang lebih dulu gigih merawat tradisi bangsanya, seperti Jerman dengan Gothe Institute-nya. “Nanti saya akan buatkan Bali Corner, Jawa Barat Corner dan lainnya. Di sana akan ada simbol khusus daerah, dan jika mungkin semua tradisi nusantara ada di tempat ini”, ujar Sumiarso.

 

Hampir setiap hari, Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo mengenalkan diri kepada instansi-instansi pemerintah dan atau swasta tentang pentingnya merawat tradisi. Ini dilakukan Luluk, selain untuk mengkampanyekan seni nusantara, juga sebagai ajakan untuk lebih serius lagi dalam menghargai warisan seni tanah air. “Negara kita ini kaya akan warisan sejarah. Namun hanya sedikit orang yang peduli untuk merawatnya. Saya selalu mengajak kepada semua lapisan masyarakat, terutama instansi pemerintah untuk menggiatkan kembali warisan budaya bangsa”, ajaknya.

 

Kegiatan

Kegiatan dan pementasan-pementasan yang diadakan oleh Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo sesuai dengan visi dan misinya, yaitu :

1. Pelestarian Seni Drama Panggung Tradisional

Sampai saat ini Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo telah menggelar sebanyak 48 kali pagelaran di berbagai gedung terkenal, seperti Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Balai Kartini Jakarta dan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung.

2. Pengembangan dan Pembinaan Seni Tradisi

Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo telah sukses menyelenggarakan 5 kali pagelaran Sendratari Ramayana dibawah sinar bulan purnama di Panggung Terbuka Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo di Ciputat, Tangerang.

3. Selain pagelaran-pagelaran seni panggung tradisional, Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo juga mempergelarkan Kolaborasi Etnis Musik dan Tari Nusantara dan telah sukses mengikuti festival-festival diluar dan didalam negeri sebagai berikut :

1. Festival Folklore di Schagen, Belanda : 9 – 15 Juli 2007
2. Festival Folklore di Valencia, Spanyol : 14 – 30 Agustus 2008
3. Festival Folklore di Lefkada, Yunani : 16 – 23 Agustus 2009
4. Festival Folklore di Agrinio, Yunani : 24 – 30 Agustus 2009
5. Pagelaran Indonesian Night yang diadakan oleh KBRI di Yunani di Acropolis, Athena, Yunani : 1 September 2009
6. III International Folklore Festival “Desde el fin del mundo di Chile : 12 – 23 Mei 2010
7. 32nd Bali Arts Festival “Pesta Kesenian Bali XXXII 2010” di Bali : 2 – 3 Juli 2010
8. Indonesian Night di Madrid atas undangan KBRI di Madrid, Spanyol, dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 66, dilanjutkan dengan ikut berperan serta pada Festival Asia di Barcelona : 18 – 25 September 2011
9. “Monstra Indonesia” di Brescia, Itali, dibuka oleh Dubes RI di Vatikan, Budiarman Bahar pada tanggal 9 November 2013

Informasi lebih lanjut hubungi

Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo
Jalan Elang Raya, Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan
Telp.: +62 21 7471 3555
FB: https://id-id.facebook.com/puspobudoyo,
https://www.facebook.com/pages/Kampoeng-Boedaya-Ciputat/656076211123039,
https://www.facebook.com/pages/Galeri-Rumah-Puspo-Ciputat/1452281591653399

sumber: gps wisata indonesia

Last modified on Friday, 06 December 2019
Login to post comments

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family